Cianjur, sorotbanten.com | Di balik gencarnya jargon pembangunan dan pengentasan kemiskinan, sebuah rumah berdinding anyaman bambu berdiri memprihatinkan di Kampung Cisarua RT 01 RW 04, Desa Sukaraharja, Kecamatan Kadupandak, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Kondisi rumah tersebut seolah menjadi tamparan keras bagi nurani para pemangku kebijakan.
Atap genteng yang usang, tiang penyangga nyaris roboh, serta lantai tanah yang lembap menjadi bukti nyata bahwa kesejahteraan belum sepenuhnya menyentuh seluruh lapisan masyarakat. Rumah ini bukan sekadar bangunan tua, melainkan simbol kegagalan sistemik dalam pendataan dan penyaluran bantuan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH).
Ironisnya, di tengah berbagai laporan keberhasilan program dan kucuran anggaran pembangunan, masih ada warga yang dipaksa bertahan hidup dalam kondisi yang mengancam keselamatan dan kesehatan. Rumah reyot seperti ini kerap hanya menjadi objek dokumentasi sesaat difoto, dicatat, lalu dilupakan. Sementara itu, bantuan justru tak jarang salah sasaran.
Kondisi tersebut semakin memprihatinkan ketika musim hujan tiba. Penghuni rumah harus bersiap menghadapi atap bocor, lantai becek, hingga ancaman bangunan roboh sewaktu-waktu. Ini bukan lagi soal layak atau tidak layak, melainkan menyangkut hak dasar manusia untuk hidup aman dan bermartabat.
Pemilik rumah diketahui bernama Ruhyati (60), seorang janda yang tinggal seorang diri. Dengan kondisi ekonomi yang serba terbatas, ia hanya bisa berharap uluran tangan pemerintah.
“Saya berharap pemerintah bisa segera membantu. Rumah ini sudah lama rusak dan saya tinggal sendiri,” ujar Ruhyati dengan suara lirih kepada wartawan. Selasa (30/12/2025).
Pemerintah desa hingga pemerintah daerah dinilai tidak bisa terus bersembunyi di balik alasan keterbatasan anggaran. Jika kemauan politik benar-benar ada, rumah seperti ini seharusnya sudah lama tersentuh program perbaikan. Pembiaran berlarut hanya akan memperlebar jurang ketimpangan dan menegaskan bahwa pembangunan belum sepenuhnya berpihak pada masyarakat paling rentan.
Rumah reyot di Kampung Cisarua itu kini berdiri sebagai saksi bisu, bahwa di tengah hiruk-pikuk pembangunan, masih ada warga yang tertinggal, terabaikan, dan nyaris tak terdengar suaranya.
anggi













